Home / Atdikbud / PENDIRIAN PRODI BAHASA INDONESIA DI AL-AZHAR: DIPERLUKAN 7 DOSEN DAN 25 MAHASISWA BARU SETIAP ANGKATAN

PENDIRIAN PRODI BAHASA INDONESIA DI AL-AZHAR: DIPERLUKAN 7 DOSEN DAN 25 MAHASISWA BARU SETIAP ANGKATAN

Minat masyarakat Mesir untuk belajar bahasa Indonesia sangat tinggi. Sejak Oktober 2019, Bahasa Indonesia telah diajarkan secara resmi sebagai bahasa pilihan di Fakultas Bahasa dan Terjemah di Universitas Al-Azhar. Pada tahun 2020, direncanakan menjadi Program Studi Bahasa Indonesia. Namun ada beberapa kondisi yang perlu dipenuhi, baik dari segi sumber daya manusia maupun birokrasi.

Sehubungan dengan hal tersebut, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Cairo, Prof. Dr. Bambang Suryadi menemui Dekan Fakultas Bahasa dan Terjemah Universitas Al-Azhar, Prof. Dr. Muhammad Said Ghazi (15/9/2020). Agenda utama pertemuan ini adalah untuk membahas perkembangan bahasa Indonesia yang resmi diajarkan sebagai bahasa pilihan di Fakultas Bahasa dan Terjemah Al-Azhar. Pertemuan tersebut merupakan tindak lanjut dari hasil audiensi dengan Rektor Al-Azhar sehari sebelumnya.

Menurut catatan saat ini, terdapat 16 orang mahasiswa yang mengambil Bahasa Indonesia sebagai bahasa pilihan pada fakultas tersebut. Dari jumlah tersebut, 12 orang mahasiswa naik ke Tingkat II. Mereka berasal dari berbagai program studi bahasa asing di Fakultas Bahasa dan Terjemah Universitas Al-Azhar. Jumlah mahasiswa yang mengambil Bahasa Indonesia sebagai bahasa pilihan bisa bertambah, mengingat proses Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Al-Azhar Tahun Akademik 2020/2021 masih berlangsung.

Supaya proses belajar mengajar tetap berjalan pada tahun kedua ini, Dekan Fakultas Bahasa dan Terjemah mengingatkan isi perjanjian kerja yang menyebutkan bahwa pihak Indonesia bertanggung jawab menyediakan dan mengirimkan empat (4) orang dosen ke Universitas Al-Azhar.

“Saya sangat berharap agar kebutuhan terhadap 4 orang dosen dari Indonesia ini dapat dipenuhi. Mereka bertugas selama satu tahun akademik pada tahun ajaran baru yang akan dimulai pada 17 Oktober 2020 sampai dengan 24 juni 2021,” ucap Said Gazi seraya menambahkan perkuliahan pada tahun ajaran ini menerapakan pola gabungan antara tatap muka dan daring.

Lebih lanjut, Dekan Fakultas Bahasa dan Terjemah mengatakan pihak Indonesia bisa membuat seminar dan promosi di aula fakultas tentang pengenalan budaya dan bahasa Indonesia serta peluang kerja serta beasiswa bagi alumni bahasa Indonesia ini untuk mahasiswa Al-Azhar. Acara itu bisa dihelat ketika awal tahun ajaran ini dibuka.

Menanggapi hal tersebut, Atdikbud KBRI Cairo berkomitmen untuk segera berkoordinasi dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta. Atdikbud juga menambahkan, bahwa selama ini melalui Puskin KBRI Cairo telah memberikan kelas tambahan, guru pendamping lokal dan motivasi kepada mahasiswa berprestasi pada bahasa pilihan tersebut.

Ketika ditanya tentang pendirian Prodi Bahasa Indonesia, Dekan menyampaikan permintaan maaf karena pandemi Covid-19, proses tersebut mengalami hambatan.

“Sampai saat ini seluruh dokumen tentang permohonan pendirian Prodi ini sudah diterima, namun pihak Al-Azhar juga masih melihat perkembangan minat mahasiswa Mesir terhadap bahasa pilihan Indonesia. Minimal 25 orang mahasiswa baru setiap tahunnya untuk bisa dibuka sebuah prodi berikut 7 orang dewan pengajar dengan komposisi satu orang profesor (guru besar) dan 6 orang doktor sesuai regulasi di Al-Azhar,” jawabnya.

Namun demikian, tambahnya, supaya rencana pendirian program studi Bahasa Indonesia ini bisa segera terealisasi, sebaiknya pihak Indonesia melakukan audiensi dengan Grand Syekh Al-Azhar. Apa yang diputuskan oleh Grand Syekh Al-Azhar, akan dilaksanakan di tingkat fakultas.

Selain ketika ditanya apakah ada standar yang harus dipenuhi selain ketersediaan tenaga pengajar, Dekan menyampaikan bahwa salah satu variabelnya adalah keminatan mahasiswa Mesir terhadap bahasa Indonesia. “Minimal 25 orang mahasiswa baru setiap tahunnya untuk bisa dibuka sebuah prodi berikut 7 orang dewan pengajar dengan formasi satu profesor (guru besar) dan sisanya setingkat doktoral sesuai regulasi di Al-Azhar,” jawabnya. Beliau juga menyarankan, supaya program ini segera terealisasi, sebaiknya Indonesia langsung beraudiensi dengan Grand Syekh Al-Azhar. “Apa yang disetujui Grand Syekh, kami akan laksanakan,” terangnya.

Program BIPA di Al-Azhar

Selain membahas Prodi Bahasa Indonesia dan bahasa pilihan, pada pertemuan tersebut dibahas juga tentang kelanjutan kursus Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) yang selama ini berjalan di Fakultas Bahasa dan Terjemah sejak desember 2016.

Menurut Said Ghazi, fakultas tidak bisa melaksanakan kursus BIPA tanpa persetujuan pihak rektorat. Kursus BIPA yang ada di fakultas hanya boleh diikuti oleh mahasiswa (banin) saja, sedangkan untuk mahasiswi akan dipindahkan ke kampus banat setelah ada surat permohonan dari pihak Perwakilan RI di Cairo.

Adapun program BIPA untuk dosen dan pegawai di kampus Al-Azhar, tambah Dekan, bisa dilaksanakan dengan batas minimal 7 orang. Mereka harus mendapat pesertujuan dari Dekan dan berkomitmen secara tertulis untuk menyelesaikan jenjang yang ada.

Berdasarkan data BIPA Mesir, Peserta BIPA di Al-Azhar sampai periode II Juli-September ini mencapai 209 peserta putra putri asal Mesir dari berbagai fakultas di Universitas Al-Azhar. Sedangkan tenaga pengajar BIPA di Al-Azhar saat ini berjumlah tiga orang. Mereka adalah mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh studi program master (S2) dan doktor (S3) di Mesir. []

About admin

Check Also

PEMBUKAAN KURSUS BIPA DI MESIR, 248 PESERTA DIDIK BARU DINYATAKAN LULUS

Prof. Bambang Suryadi, Atdikbud KBRI Cairo membuka secara resmi kursus bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *