Home / Atdikbud / MENDIKBUDRISTEK NADIEM MAKARIM TAKJUB DENGAN PERKEMBANGAN BIPA MESIR

MENDIKBUDRISTEK NADIEM MAKARIM TAKJUB DENGAN PERKEMBANGAN BIPA MESIR

Mendikbudristek Nadiem Makarim dan Maryam Ashraf, Siswi BIPA Puskin KBRI Cairo

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa melaksanakan kegiatan dialog dengan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi dengan pengajar BIPA dari dalam dan luar negeri yang bertajuk “Mas Menteri Ngobrol dengan Pengajar BIPA” secara daring pada tanggal 20 Juni 2021. Kegiatan tersebut dihadiri sekitar 500 orang peserta yang meliputi pengajar dan pegiat BIPA, pemelajar BIPA, pejabat perwakilan Republik Indonesia di luar negeri, serta masyarakat umum. Acara ini merupakan salah satu bentuk fasilitasi pengembangan program BIPA yang bertujuan memperluas dan memperkuat jejaring kemitraan nasional dan internasional pengajar BIPA.

Dalam sambutannya, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Makarim menyampaikan kegembiraannya melihat antusiasme para pemelajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) dari berbagai negara. Ia juga memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada para pengajar BIPA yang mempunyai semangat luar biasa untuk menyebarkan BIPA di negaranya masing-masing.

Menurut Endang Aminudin Aziz, Ph.D., Kepala Badan Bahasa 2020–2024, pada periode 1 Januari—30 April 2021, Badan Bahasa telah menugaskan 36 orang pengajar untuk memfasilitasi 61 lembaga di 24 negara. Dijelaskan Aminudin, di antara pengajar yang ditugaskan tersebut, terdapat 73 pengajar lokal BIPA yang merupakan warga negara asing dan diaspora Indonesia.

“Pendataan dan fasilitasi pengajar BIPA, baik di dalam maupun luar negeri terus kami lakukan untuk mengembangkan jejaring kemitraan nasional dan internasional supaya kita dapat mempercepat dan memperluas akses pelayanan pengajaran BIPA,” pungkas Aminudin.

Acara “Mas Menteri Ngobrol dengan Pengajar BIPA” menjadi bincang santai antar negara. Setiap benua, diwakili satu orang untuk memberikan sambutan dengan mengutarakan pengalamannya masing-masing selama mengajar BIPA. Siriporn Maneechukate, salah seorang pengajar BIPA di Thaliand mewakili BIPA Asia menyampaikan kendala pengajaran BIPA di Thailand. “Di sini, guru BIPA harus paham bahasa lokal. Jika tidak, akan mengalami kesulitan dalam menyampaikan materi. Saya mengusulkan agar para peserta BIPA mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan beasiswa agar dapat memperdalam bahasa dan budaya Indonesia,” imbuhnya.

Nidlol Masyhud, salah seorang pengajar BIPA Mesir mewakili pengajaran BIPA Afrika menyampaikan bahwa minat penduduk Afrika untuk mempelajari bahasa Indonesia cukup tinggi. “Di Mesir, misalnya, pendaftar Kursus BIPA senantiasa membludak. Gelombang Mei 2021, jumlah pendaftar mencapai 640 orang, sementara daya tampung hanya 250 orang”, imbuhnya. Ia menambahkan, “Saat ini sudah dibuka 3 lokasi pembelajaran BIPA di Mesir. Dua di ibu kota dan satu di provinsi luar Cairo. Sejak tahun 2019, bahasa Indonesia menjadi Bahasa kedua di Fakultas Bahasa dan Terjemah Universitas Al-Azhar.”

Diakui Nidhol, selama pandemi, metode pembelajaran dilakukan dengan jarak jauh (PJJ). Menurutnya, metode tersebut membuat banyak warga dari Maroko, Sudan, Palestina, dan Suriah juga turut berpartisipasi dalam kelas BIPA secara daring. “Kelas di Mesir sekarang penuh sekali. Ada dua di ibu kota dan satu di daerah. Pemelajar juga terdiri dari siswa SMP, SMA, wartawan, dosen, atlet, pejabat pemerintah, bahkan ibu rumah tangga,” kata Nidhol.

Ia pun mengatakan bahwa mayoritas pemelajar tertarik belajar bahasa Indonesia karena pengajar merupakan penutur asli dan orang Indonesia terkenal ramah dan akrab. Ia berharap, para pengajar BIPA di Mesir dapat memeroleh bantuan sarana pembelajaran seperti kamus, buku sastra, komik dalam bahasa Indonesia, serta bahan ajar dan multimedia dengan kekhasan lokal.

Acara diskusi virtual berdurasi sekitar 90 menit itu juga diisi oleh sejumlah penampilan, seperti pembacaan puisi oleh Elisebeth Doty dari Amerika Serikat dan mendongeng singkat oleh Mariam Ashraf dari Mesir yang merupakan pemelajar BIPA di negaranya masing-masing. Dalam cerita rakyatnya, Maryam Ashraf, salah satu siswa Pusat Kebudayaan Indonesia (Puskin) KBRI Cairo mengangkat cerita Bawang Merah dan Barang Putih. Penampilannya begitu memukau dan penuh penghayatan. Maryam sebelumnya merupakan peraih juara satu lomba bercerita dalam acara Festival Handai Indonesia tahun 2020 yang diadakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Nadiem memberikan tanggapan positif atas sambutan yang disampaikan oleh perwakilan peserta BIPA Mesir. “Saya salut dengan BIPA di Mesir. Di saat BIPA di Kawasan lain ada yang mengalami penurunan, justru di Mesir jumlah peserta sampai membludak”, imbuhnya.

Nadiem juga terlihat antusias ketika melihat penampilan cerita dari Maryam Ashraf, siswa BIPA Mesir. “Luar biasa. Penampilannya sangat bagus”, imbuhnya. Dalam penutupan acara, Nadiem menawarkan diri untuk memberikan pengajaran BIPA untuk tiap kawasan. “Sesekali bisa diadakan pengajaran BIPA per Kawasan. Saya siap untuk mengajar,” tambahnya.

Program yang diselenggarakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa ini rencananya akan menjadi agenda rutin guna tukar pengalaman dan ide antarpengajar BIPA dari berbagai kawasan. []

About admin

Check Also

KBRI KAIRO DUKUNG PENDIRIAN PERSATUAN PENCAK SILAT MESIR

Kairo, 13 Agustus 2021 — Untuk meningkatkan kerja sama bidang kebudayaan dan olah raga, Kedutaan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *